TRISAKTI MENJAWAB TANTANGAN ZAMAN UNTUK MEWUJUDKAN CITA-CITA PROKLAMASI

gemini generated image

DEWAN PIMPINAN PUSAT GERAKAN PEMUDA MARHAENIS Regional Board Of The Youth Marhaenist Movement Commite Central De La Jenunesse Marhaenis Cari Cluster no B.1, Rt 005 Rw. 004, Jl Kalicari Dalam 1 Kel.Kalicari, Kec.Pedurungan, Kota Semarang, Prov Jawa Tengah Kode Pos : 50198 Telp : 081390201857


TRISAKTI MENJAWAB TANTANGAN ZAMAN UNTUK MEWUJUDKAN CITA-CITA PROKLAMASI

Oleh Drs.Heri Satmoko,MH Ketua Umum DPP Gerakan Pemuda Marhaenis

Perjuangan Bangsa Indonesia bersama para Pendiri Bangsa untuk merebut kemerdekaan telah diridhoi Tuhan Yang Maha Esa, dimana atas Rahmat dan ijinNya Bangsa Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945 memproklamirkan kemerdekaan Indonesia untuk bebas dari belenggu penjajahan.

Sejak Proklamasi tersebut mulailah disusun sebuah Negara dan Pemerintahan Republik Indonesia dimana UUD 1945 menjadi Dasar Konstitusinya dan Pancasila sebagai Dasar Negaranya sebagai Pedoman Dasar dalam melakukan Tata Kelola Pemerintahan dan Negara guna mewujudkan Cita-Cita Proklamasi yakni terwujudnya Tatanan Masyarakat Indonesia yang ADIL BERKEMAKMURAN & MAKMUR BERKEADILAN bagi seluruh Rakyat Indonesia.

Dan Jalan menuju terwujudnya Cita-cita Proklamasi tersebut disamping harus berdasarkan pada UUD 1945 dan Pancasila juga harus berpegang pada Prinsip TRISAKTI.

Dimana prinsip TRISAKTI haruslah dapat dijadikan Garis Besar Haluan Negar & harus menjadi prinsip bernegara. Alasannya adalah karena TRISAKTI akan dapat membawa Indonesia pada kemandirian yang diyakini akan dapat mewujudkan Negara Indonesia yang berdaulat baik secara EKONOMI, POLITIK & KEBUDAYAAN.

Melalui TRISAKTI bangsa Indonesia akan dapat membangun kemampuannya dalam mendidik potensi SDM Indonesia yang berkualitas dan berdaya saing dalam kancah persaingan Global, karena dengan menerapkan Prinsip TRISAKTI secara konsisten akan memiliki kretivitas dan tidak ketergantungan dengan pihak lain karena bisa Merdeka dalam Bidang Ekonomi, Merdeka dalam Bidang Politik dan Merdeka dalam Berkebudayaan.

Melalui TRISAKTI yang diterapkan dalam konsep bernegara juga akan memiliki kemandirian dalam mengelola sumber daya alamnya sendiri dan tidak menggantungkan nasibnya kepada modal asing.

Konsep TRISAKTI Bung Karno inilah Strategi untuk mewujudkan Cita-cita Proklamasi tersebut.


Apakah Konsep TRISAKTI Bung Karno tersebut ? Yakni :

  1. Berdaulat Penuh di Bidang Politik
  2. Berdikari dalam Bidang Ekonomi
  3. Berkepribadian dalam Bidang Budaya

Jika kita melihat kondisi saat ini Indonesia tidak mandiri dan masih ketergantungan dengan pihak Asing, Adapun Faktor Dominan yang menyebabkannya adalah :

1. Terperangkap dalam Budaya Konsumtif

Budaya Konsumtif ini memang sengaja diciptakan secara terstruktur, sistemik dan masiv oleh pihak asing yang bergerak dalam perusahaan-perusahaan berskala global sasarannya untuk menjadikan masyarakat Indonesia menjadi masyarakat yang Konsumtif bagi produk produk dari perusahaan Kapitalis. Ini merupakan Strategi dari system Kapitalisme lanjutan untuk memuluskan jalannya produk-produk barang yang didatangkan dari luar negeri ke Indonesia agar banyak diminati masyarakat Indonesia dan mendapatkan sukses dari penjualannya.

Masyarakat Indonesia didorong oleh Kapitalisme untuk terus menjadi masyarakat Konsumtif sambil melumpuhkan kreativitasnya dalam berproduksi. Masyarakat Indonesia yang menjadi masyarakat Konsumtif tersebut “digiring” agar tergantung pada produk-produk dari luar negeri tersebut.

Hidup tanpa Kreativitas dan Ketergantungan inilah yang oleh Bung Karno diistilahkan dengan “Masyarakat tanpa Kemandirian dan Bermental Pengemis”. Ketidakmampuan masyarakat dalam mencipta inilah yang kemudian menjadikan masyarakat tersebut selalu dalam kondisi ketergantungan, tidak mandiri dan mudah digiring untuk membangun mental pemalas dan pengemis.

2. Masih kuatnya Dominasi Asing (Imperialisme) terhadap Perekonomian Indonesia

3. Tidak mandiri dalam Pengelolaan Sumber Daya Alamnya

Dengan kondisi Sumber Daya Alamnya baik SDA hasil Hutan/Pertanian/Perkebunan, SDA Hasil Laut maupun SDA Hasil Pertambangan yang melimpah ruah harusnya Indonesia dapat hidup Makmur sebagaimana yang dicita-citakan Proklamasi. Namun kenyataannya sekarang kemakmuran belum dirasakan bagi seluruh Rakyat Indonesia, masih banyak yang hidup miskin dan susah. Sejak Proklamasi hingga saat ini pengelolaan Sumber Daya Alam Indonesia belum bisa dikelola untuk kemakmuran bagi seluruh masyarakat Indonesia karena “perampokan” Sumber Daya Alam yang dulu sebelum kemerdekaan dilakukan oleh kaum Imperialis Penjajah Asing dan sekarang setelah merdeka juga masih dilakukan oleh kapitalis global dan kaum Oligarki yang mampu mengendalikan kebijakan dalam negeri. Negara-Negara Kapitalis dalam menguras kekayaan alam Indonesisa melalui jebakan pemberian Hutang yang berlebihan. Jebakan Hutang tersebut menyebabkan kekayaan alam Indonesia semakin susut untuk membayar cicilan bunga dan pokok hutang yang seharusnya bisa digunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Para Elit Kekuasaan bekerjasama dengan Pengusaha Asing dan Lokal menggunakan kekuatan Finansial dan Politisnya untuk mempertahankan akses eksploitasi terhadap Sumber Daya Alam Indonesia. Ekplorasi dan eksploitasi kekayaan alam Indoneisa itu hanya dinikmati oleh kaum Oligarki (Kapitalis) baik dalam negeri maupun luar negeri dan pemegang otoritas di Lembaga-lembaga public. Kondisi Indonesia seperti ini sebenarnya sudah mengkhianati cita-cita Revolusi yang dicanangkan Bung Karno, yang mencanangkan TRISAKTI guna mewujudkan :

  1. KEDAULATAN POLITIK, dimana dalam kenyataannya Kedaulatan Politik Indonesia saat ini masih diintervensi oleh kepentingan Pemodal Asing (Imperialisme)
  2. KEDAULATAN EKONOMI, dimana dalam kenyataannya belum bisa mewujudkan kesejahteraan dan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia karena belum terwujudnya kemandirian/kedaulatan dalam bidang ekonomi
  3. KEDAULATAN DALAM KEPRIBADIAN DALAM BERBUDAYA, dimana saat ini justru maraknya intervensi Budaya Asing yang ingin merusak Budaya Nasional Kita.

Masalahnya adalah selama tali kusir pemerintahan tidak ditangan kaum Marhaenis yang berbasis Ideologis, Progresive Revolusioner tidaklah mungkin TRISAKTI diterapkan secara murni dan konsekwen dalam kebijakan kebijakan public dalam mengelola Pemerintahan dan Negara. Untuk itulah dengan semangat Revolusi Indonesia perlu dibangun Kembali barisan dan kekuatan kaum marhaenis pergerakan guna menciptakan tatanan masyarakat yang marhaenistis sebagai penunjang utama pengambil alihan tali kusir pemerintahan secara konstitusional.


Selamat hari ulang tahun Gerakan Pemuda Marhaenis ke 79, terus jaya dan bertumbuh kader kader Pemuda Marhaenis yang berbasis Ideologis, Progesive Revolusioner…!!!

Merdeka…!!!

Marhaen berjuang, Marhaen menang Indonesia Jaya…!!!

Semarang, 31 Mei 2026

Scroll to Top